
Foto: Gemini
Teknologi.id – Simbol kehancuran global yang paling ditakuti dunia, Doomsday Clock atau Jam Kiamat, kini berdetak lebih cepat. Dalam pengumuman terbarunya, Bulletin of the Atomic Scientists (BAS) resmi memajukan jarum jam ke posisi 85 detik menuju tengah malam. Angka ini menandai titik terdekat manusia dengan kehancuran total sepanjang sejarah peradaban, lebih dekat 4 detik dibandingkan posisi tahun sebelumnya.
Keputusan para ilmuwan atom yang didukung oleh delapan peraih Nobel ini bukanlah tanpa alasan. Dunia dinilai sedang berada di ambang krisis eksistensial yang dipicu oleh kombinasi mematikan dari ketegangan nuklir, kegagalan penanganan iklim, serta ancaman baru dari disinformasi teknologi.
Tiga Pilar Kehancuran: Nuklir, Iklim, dan Kebohongan
Pergeseran jarum jam ini menjadi sinyal merah bagi para pemimpin dunia. Dewan Sains dan Keamanan BAS menyoroti beberapa faktor utama yang "mendorong" manusia semakin dekat ke jurang kiamat:
1. Eskalasi Nuklir dan Runtuhnya Perjanjian Faktor paling dominan adalah meningkatnya agresivitas negara-negara adidaya. Situasi geopolitik global kian memanas seiring dengan berakhirnya perjanjian pengurangan senjata strategis New START antara Washington dan Moskow yang akan kadaluwarsa minggu depan tanpa ada tanda-tanda perpanjangan.
Tak hanya itu, ambisi militerisasi ruang angkasa melalui proyek pertahanan rudal "Golden Dome" yang didorong oleh pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump—yang kini menjalani masa jabatan keduanya—dinilai memperparah ketidakstabilan. Rusia dan China merespons dengan sikap yang semakin konfrontatif dan nasionalistis, menciptakan atmosfer Perang Dingin baru yang jauh lebih berbahaya.
2. Krisis Iklim yang Tak Terkendali Tahun 2025 tercatat sebagai tahun dengan anomali cuaca ekstrem yang meluas, mulai dari gelombang panas mematikan, banjir bandang, hingga kekeringan panjang. Para ilmuwan menilai negara-negara dunia telah gagal mengadopsi perjanjian iklim yang bermakna untuk menahan laju pemanasan global, menjadikan bumi tempat yang semakin sulit dihuni.
3. "Armageddon Informasi" Ancaman yang tak kalah mengerikan datang dari ranah digital. Maria Ressa, jurnalis peraih Nobel Perdamaian, menyebut fenomena ini sebagai "Armageddon Informasi". Teknologi ekstraktif dan predatoris—termasuk penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI)—telah mempercepat penyebaran kebohongan jauh lebih cepat daripada fakta. Disinformasi ini memecah belah masyarakat, mengikis kepercayaan publik, dan melumpuhkan kemampuan dunia untuk bekerja sama mengatasi krisis nyata.
Baca juga: Bill Gates Tak Lagi Percaya “Kiamat Iklim”, Ajak Dunia Realistis Hadapi Krisis Iklim
Dunia yang Terbelah
Daniel Holz, ketua dewan sains dan keamanan kelompok tersebut, memberikan peringatan keras mengenai polarisasi global. "Jika dunia terbelah menjadi pendekatan 'kami versus mereka' yang bersifat zero-sum, kemungkinan besar kita semua akan kalah," ujarnya.
Runtuhnya norma-norma global dan kerja sama internasional dinilai mempercepat persaingan kekuatan besar dengan mentalitas "pemenang mengambil semua" (winner-takes-all). Hal ini melemahkan upaya kolektif yang sangat krusial untuk mencegah perang nuklir maupun bencana biologis akibat penyalahgunaan bioteknologi.
Baca juga: Ikuti Amerika? Rusia Targetkan Bangun Reaktor Nuklir di Bulan Sebelum Tahun 2036!
Sejarah Jam Kiamat

Foto: Getty Images
Didirikan pada tahun 1945 oleh para ilmuwan Proyek Manhattan—termasuk Albert Einstein dan J. Robert Oppenheimer—Bulletin of the Atomic Scientists pertama kali memperkenalkan Jam Kiamat pada tahun 1947. Saat itu, jam disetel pada pukul 7 menit menuju tengah malam.
Ironisnya, momen paling "aman" dalam sejarah Jam Kiamat terjadi pada tahun 1991, saat Perang Dingin berakhir, di mana jarum jam mundur hingga 17 menit dari tengah malam. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ancaman yang semakin kompleks memaksa para ilmuwan beralih dari hitungan menit ke detik.
Posisi 85 detik di tahun 2026 ini adalah rekor terburuk, melampaui rekor sebelumnya (90 detik). Meski demikian, BAS menegaskan bahwa jam ini bukanlah ramalan nasib, melainkan peringatan. Jarum jam bisa diputar mundur kembali jika, dan hanya jika, para pemimpin dunia dan masyarakat global bersatu untuk meredakan ketegangan dan berkomitmen pada solusi nyata.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)