
Foto: Radar Jember.
Teknologi.id - Di era digital yang modern ini, dunia menghasilkan jutaan ton limbah elektronik (e-waste/ electronic waste) setiap tahunnya. Kebanyakan dari kita melihat ponsel lama, laptop rusak, dan remot korslet sebagai sampah tidak berguna yang memenuhi laci. Namun, peneliti sudah lama mengetahui bahwa limbah-limbah ini memiliki nilai tersembunyi: emas. Rintangannya adalah bagaimana cara mengeluarkannya tanpa menghancurkan planet dalam prosesnya.
Baru-baru ini, sekelompok peneliti Cina menemukan metode terobosan untuk mendapatkan kembali emas ini, tidak hanya dengan lebih cepat dan murah, namun juga lebih bersih daripada teknik tradisional lainnya. Dikembangkan oleh para ahli dari Institut Konversi Energi Guangzhou (di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Cina) dan Universitas Teknologi Cina Selatan, inovasi ini dapat mengubah citra daur ulang selamanya.
Solusi Murah dan Cepat
Aspek paling menakjubkan dari penemuan ini adalah kecepatannya. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Angewandte Chemie International Edition, sekarang emas dapat diekstrak dari perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan dalam waktu kurang dari 20 menit di suhu ruang. Untuk industri dengan rendaman kimia yang lambat dan kompleks, durasi ini hampir termasuk instan.
Efisiensinya sama-sama hebat. Kelompok peneliti itu melaporkan kalau mereka dapat mendapatkan 98,2% emas yang ditemukan dari limbah CPU dan PCB. Tidak hanya emas, mereka juga berhasil mendapatkan kembali 93,4% palladium, logam berharga lainnya yang bernilai tinggi karena stabilitas dan tahan terhadap korosi.
Baca juga: Bumi: Robot Humanoid Murah Asal China, Harganya Setara iPhone
Perubahan Besar Ekonomi
Mengenai biayanya, proses baru ini merupakan perubahan biaya besar. Tim ini mengungkapkan jika metode mereka bernilai sekitar sepertiga dari harga pasar sekarang untuk mengekstrak emas. Agar memahami skala keuntungannya, berikut data eksperimen tim peneliti:
- Memproses hanya 10 kilogram dari papan sirkuit lama dapat menghasilkan sekitar 1,4 gram emas.
- Biaya total dari ekstraksi ini kasaarnya mencapai $72 (sekitar Rp 1,2 juta).
- Artinya, biaya dari "menambang" emas ini sekitar $1.455 (sekitar Rp 24,5 juta) per ons.
Sebagai perbandingan, harga emas internasional mencapai harga tertinggi, $4.400 (sekitar Rp 74,1 juta) per ons di awal Januari 2026. Para ahli bahkan memprediksi bahwa emas dapat mencapai $10.000 (sekitar Rp 168,5 juta) per ons di akhir dekade ini. Artinya, margin keuntungan bagi perusahaan yang menggunakan metode 20 menit ini sangat besar.
Kenapa Metode Tradisional Gagal?

Foto: NEWS18.
Sampai saat ini, mendaur ulang emas dari elektronik dianggap sebagai bisnis "kotor" dan berbahaya. Metode lama biasanya bergantung pada sianida atau bahan reaksi korosif tinggi lain. Sianida merupakan racun mematikan yang berisiko ekstrem bagi pekerja dan dapat merusak persediaan air lokal jika bocor. Terlebih lagi, metode-metode kuno ini memakai listrik dengan jumlah besar dan memproduksi "endapan racun" yang sulit dibuang.
Dengan limbah elektronik yang diperkirakan akan meningkat sampai 82 juta ton di tahun 2030, dunia tidak boleh lagi menggunakan metode beracun dan boros energi ini. Solusi dari tim Cina ini menyelesaikan masalah secara langsung, mengonsumsi energi 62,5% lebih sedikit, dan memangkas biaya bahan reaksi sebanyak 93%.
Baca juga: Startup AS Kembangkan Bayi Rekayasa Genetika: Bebas Penyakit Keturunan & Lebih Cerdas
Bagaimana Cara Kerja "Self-Catalytic" Ini?
Terobosan ini bergantung pada apa yang disebut sebagai "mekanisme pelarutan self-catalytic". Dibandingkan menggunakan bahan kimia eksternal untuk memaksa emasnya larut, tim ini menggunakan larutan berbasis air yang mengandung potasium peroksimonosulfat (PMS) dan potasium klorida (KCI).
Saat cairan ini menyentuh permukaan emas atau paladium, besinya berperan sebagai pemicu. Hal ini memantik sebuah reaksi yang memproduksi oksidan yang sangat reaktif, yang memecah atom logam dan memungkinkan mereka larut. Dari sana, emas dapat dipisahkan dan dimurnikan melalui langkah-langkah sederhana untuk menghasilkan logam dengan kemurnian tinggi.
Mengubah Sampah Menjadi "Tambang Perkotaan"
Penemuan ini dapat mengubah tempat pembuangan sampah kita secara efektif menjadi "tambang perkotaan", sehingga mengurangi tambang tradisional yang menghancurkan daratan. Dengan mempercepat dan lebih menguntungkan proses daur ulang dibandingkan menggali lubang di tanah, metode ekstraksi 20 menit ini memberikan dorongan ekonomi yang kuat menuju ramah lingkungan. Hal ini merupakan solusi "win-win" yang langka, baik bagi industri teknologi dan lingkungan.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar